Pages

Showing posts with label BPP Purwoasri. Show all posts
Showing posts with label BPP Purwoasri. Show all posts

June 24, 2015

Pengendalian Hama Tikus di Desa Bulu

 Petani Desa Bulu sedang melakukan gropyokan tikus.

Hama tikus sawah  ( Rattus rattus argentiventer ) merupakan hama yang meresahkan petani Desa Bulu Kecamatan Purwoasri terutama petani yang menggarap sawah di sekitar aliran sungai Konto. Ada berbagai macam upaya yang dilakukan kelompoktani Budi Luhur Desa Bulu untuk mengendalikan populasi hama tikus dengan cara yang ramah lingkungan, yaitu:

1. Pengendalian dengan peraturan
Ketika dilakukan pengamatan oleh Kelompoktani ternyata hama tikus banyak bersarang di dalam perakaran tanaman rumput gajah yang ditanam di pematang sawah. Menyikapi hal tersebut Kelompoktani bersama Pemerintahan Desa Bulu membuat peraturan pelarangan penanaman rumput gajah di pematang sawah dan di sekitar saluran irigasi. Selain itu juga ada pelarangan memburu ular di sawah Desa Bulu karena ular merupakan predator bagi tikus.

2. Gropyokan
Kelompoktani Budi Luhur melakukan gropyokan tikus minimal dua kali dalam satu tahun untuk mengendalikan hama tikus. Gropyokan biasanya dilakukan dengan cara mengaliri lubang tikus yang ada di sekitar saluran irigasi dengan air supaya tikus yang ada disarangnya bisa keluar dan ditangkap. Dalam satu kali gropyokan dilakukan selama tujuh hari sampai sepuluh hari.


3. Pemanfaatan Burung Hantu
Selain ular, musuh alami tikus adalah burung hantu T. alba yang daerah penyebarannya luas Burung ini digunakan sebagai predator., karena burung hantu sebagai burung pemangsa (rapeor) yang berburu hewan lain untuk makanannya.Burung ini mempunyai kemampuan visual yang luar biasa, pendengaran yang tajam, kemampuan terbang dengan senyap, mempunyai cakar dan paruh.

Burung hantu (Tyto alba)
 Burung hantu termasuk spesies burung nokturnal, yang beraktivitas pada malam hari, penglihatannya sangat tajam, dimana dapat melihat mangsanya dari jarak jauh. Memiliki pendengaran sangat tajam dan mampu mendengar suara tikus dari jarak 500 m. Hidupnya berkelompok dan cepat berkembang biak. Induknya mampu bertelur 2 – 3 kali setahun. Sekali bertelur bias mencapai 6 – 12 butir dengan masa mengeram selama 27 – 30 hari

Burung hantu Tyto alba merupakan salah satu predator yang potensial karena spesies ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan spesies lain yaitu ukuran tubuh yang relatif lebih besar , memiliki kemampuan membunuh dan memangsa tikus cukup baik, mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan cepat berkembang biak.

Kelompoktani Budi luhur mendirikan rumah burung hantu (Pagupon) di tengah sawah dengan harapan sebagai rumah singgah bagi burung hantu. Setelah 1 bulan  diamati ternyata pagupon tersebut dijadikan tempat singgah burung hantu dan tempat untuk memakan tikus hal ini dibuktikan dengan adanya sisa bangkai tikus di sekitar pagupon.
Pagupon burung hantu.

Baca juga :

Demplot Stroberi di Ngancar

June 23, 2015

UBINAN GPPTT PADI


Salah satu upaya Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Pertanian untuk mewujudkan swasembada pangan pada tahun 2017 adalah dengan Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GPPTT). Pada tahun 2015 Kecamatan Purwoasri melaksanakan GPPTT Padi pada musim kedua (gadu) seluas 500 Ha dengan pelaksana 20 kelompoktani di 10 desa dalam wilayah Kecamatan Purwoasri.

Danramil Purwoasri sedang menyaksikan proses ubinan.
Akhir dari kegiatan GPPTT padi dilakukan ubinan untuk mengetahui hasil panen tanaman padi. Pada hari Selasa 23 Juni 2015, kelompoktani Sekarsari Desa Woromarto Kecamatan Purwoasri bersama BPP Purwoasri, Mantri Tani, Koordinator Statistik Kecamatan dan Koramil Purwoasri melakukan ubinan pada lahan padi jajar legowo 2:1 yang telah menguning siap untuk dipanen. Hasil dari ubinan dengan petak 2,5 x 2,5 meter persegi diperoleh seberat 5.05 kg dengan jumlah rumpun 148. Untuk mengetahui hasil produksi per hektar dihitung dengan rumus sebagai berikut : 5.05 x 1600 x 0,8 (toleransi pematang sawah+kadar air) = 6,46 ton/ha. Hasil tersebut cukup baik mengingat pada saat musim tanam padi kedua (gadu) banyak ancaman serangan hama penyakit mulai dari penggerek batang sampai potong leher dikarenakan cuaca dengan kelembaban tinggi sangat mendukung perkembangbiakan hama dan penyakit tanaman padi. Semoga dengan hasil tersebut bisa berkontribusi dalam mendukung program swasembada pangan Pemerintah Indonesia.

Buku pedoman dalam melaksanakan ubinan.


June 19, 2015

Hama Penggerek Batang Padi (Sundep & Beluk)

Penggerek batang adalah ulat yang hidup dalam batang padi. Hama ini berubah menjadi ngengat (Kaper) berwarna kuning atau coklat Ngengat aktif di malam hari, penyebarannya dapat dibantu dengan angin sampai 4,5 – 15 km. Ngengat betina dewasa bertelur lebih kurang 200 butir. Satu siklus hidup menghabiskan waktu antara 31 – 49 hari. Telur berkelompok, warnanya putih kekuningan, terletak agak tumpang tindih seperti susunan genting yang dibungkus oleh selaput berwarna coklat muda dan diselubungi oleh bulu yang dikeluarkan oleh ngengat betina ketika mengeluarkan telur, bentuknya oval dan merata. Jumlah telur bervariasi antara 50 – 150 butir per kelompok telur, lama periode inkubasi telur 4 – 8 hari dengan rata-rata 6 hari, telur menetas paling banyak pagi hari (85 %) dan dari telur menetas sebelum pukul satu siang. Ulat (larva) : Stadia ulat mengalami 5 instar, ukuran larva paling besar yaitu 25 mm dengan rata-rata perkembangan 24 hari.
Jenis-Jenis Penggerek Batang Padi
1.    Penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas Walker)
2.    Penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata Walker)
3.    Penggerek batang padi bergaris (Chilo suppressalis Walker)
4.    Penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens Walker)
Pencegahan dan Pengendalian Pengerek Batang
  1. Waktu panen pemotongan jerami diusahakan serata mungkin dengan permukaan tanah dan kalau mungkin diikuti dengan perendaman atau pembakaran jerami. Pengolahan tanah untuk pesemaian dilakukan bersamaan dengan pembalikan tanah untuk lahan pertanaman.
  2. Pemupukan berimbang membuat tanaman lebih tahan terhadap serangan penggerek batang.        
  3. Musuh alami : Pemangsa Ulat : Capung, laba – laba,  kumbang, jangkrik dan semut, Pemangsa telur Trichograma spp.
  4. Menggunakan Light Trap (Lampu Perangkap) untuk menjebak ngengat masuk dalam perangkap.
  5. Pengendalian secara organik : Biji Mimba ditumbuk halus dicampur daun mimba, tembakau dan urin sapi terus didiamkan selama 2 minggu. Dapat disemprotkan dengan dicampur air perbandingan  1: 8. 
  6. Pengendalian secara kimiawi : Furadan 3G, Fertera ditabur ketika dipersemaian dan sesudah tanam. Insektisida Sistemik dengan cara disemprot : Trisula, Spontan, Manuver, Regent, Virtako. Cara ini efektif apabila penggerek batang masih dalam bentuk ulat.
Light Trap
 
Mimba
Trichograma spp