Pages

June 29, 2012


Mengenal Cara Pascapanen Padi Tabela



Sumber Gambar: http://www.google.co.id
Kegiatan pascapanen padi meliputi perontokan, pengangkutan, pengeringan, pembersihan, dan penyimpanan. Acap kali kegiatan pascapanen tersebut dilanjutkan dengan penggilingan gabah menjadi beras.

1. Perontokan
Gabah hasil panen segera dirontokkan di sawah. Keterlambatan perontokan dapat menunda kegiatan pengeringan dan dimungkinkan gabah berbutir kuning. Perontokan gabah dapat dilakukan dengan beberapa cara seperri dengan menghempas, menggunakan pedal tresher, atau power tresher.

a. Perontokan dengan menghempas
Plastik dari bagor atau dari bahan lainnya dipasang sebagai tirai dan deklit digelar sebagai alas untuk menghindari gabah tercecer. Setahap demi setahap batang padi yang telah dipotong dihempas pada kayu atau kotak gebug agar gabah terlepas dari malai dan terkumpul di alas. Hempasan diulang 2-3 kali sehingga tidak ada gabah yang tertinggal di malai. Jerami kemudian ditumpuk di tempat yang lain.

b. Perontokan dengan pedal tresher
Pedal tresher diinjak naik turun sehingga roda bergerigi berputar. Secara bertahap, malai padi dimasukkan ke dalam tresher. Burir gabah dirontokkan oleh gigi roda sehingga terlepas dari malai dan gabah jamh ke alas. Gabah kemudian ditampung di tempat yang telah tersedia.

c. Perontokan dengan power tresher
Power tresher digerakkan dengan mesin penggerak. Roda tresher berputar dengan kecepatan sesuai pengaturan. Malai padi dimasukkan ke dalam lubang tresher secara bertahap. Gabah terlepas dari malai dan keluar bersama bagian malai yang terputus atau rusak. Gabah kemudian ditampung di tempat yang sudah disediakan.
  Tanam benih langsung (TABELA) kelompok tani Dayu Raya

 2. Pembersihan
Pembersihan gabah bertujuan untuk memisahkan gabah dengan kotoran dan benda lainnya. Pembersihan gabah dapat dilakukan dengan cara menampi atau menggunakan blower. Hingga kini cara pembersihan gabah dengan blower masih agak jarang dilakukan oleh petani. Pembersihan gabah tahap awal dilakukan pada saat gabah akan dimasukkan ke tempat penyimpan sementara. Pembersihan gabah selanjutnya biasanya dilakukan setelah gabah dikeringkan dan siap untuk disimpan.

3. Pengangkutan
Gabah yang telah bersih dari serasah dedaunan atau malai padi kemudian dikemas ke dalam karung goni atau bagor dan diikat erat dengan tali agar tidak tercecer. Karung berisi gabah kemudian diangkut ke rumah petani atau tempat penampungan sementara.

4. Pengeringan
Pengeringan gabah merupakan kegiatan pascapanen yang penting dalam mempertahankan mutu gabah agar tetap baik. Tujuan utama dari proses pengeringan ialah menurunkan kadar air gabah. Kadar air gabah yang di saat panen antara 22-25% dikeringkan hingga 14% agar tahan disimpan lama. Pengeringan tradisional ditempuh dengan cara menjemur gabah di panas matahari. Gabah ditebar di tempat penjemuran setebal 5-7 cm. Gabah acap kali dibolak-balik agar pengeringan dapat merata. Pengeringan dapat pula dengan menggunakan mesin pengering. Penggunaan mesin pengering dilakukan terutama di musim penghujan. Pengeringan sering kali dilakukan secara bertahap, yaitu kadar air diturunkan hingga 18%, baru kemudian dikeringkan hingga menca pai kadar air 14%.

Pengukuran kadar air gabah dapat dilakukan dengan menggunakan alat moisture tester. Caranya adalah sampel gabah dimasukkan ke dalam alat tersebut dan jarum moisture tester akan menunjukkan kadar air gabah. Bagi para tengkulak gabah biasanya menguji kadar air dengan cara menggigit butir gabah tersebut.

5. Penyimpanan
Penyimpanan bertujuan untuk memperpanjang masa penyediaan bahan pangan. Gabah diharapkan tetap dalam keadaan baik hingga tiba waktunya untuk digiling. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan saat penyimpanan yaitu cara dan tempat penyimpanan, kadar air gabah, kesehatan, serta kebersihan gabah. Tempat penyimpanan dapat berupa karung goni, silo, atau dalam ruangan biasa.

Gabah kering dalam bentuk curah dapat disimpan di lantai atau di dalam silo. Apabila gabah disimpan dalam benmk curah, harus diberi alas tikar atau plastik dan tidak boleh menempel pada dinding tembok. Penyimpanan gabah dalam silo lebih menjamin keamanan gabah dari gangguan hama, kelembapan udara, percikan air, serta tercampurnya gabah yang lain. Jika gabah disimpan cukup lama maka sesekali gabah perlu dijemur di panas matahari. Gabah di dalam karung dapat disimpan dengan cara ditata di alas kayu atau bambu secara teratur dan berseling satu atau dua agar karung ddak rebah. Fungsi alas kayu atau bambu sebagai pemisah antara karung dengan tanah atau lantai agar tidak lembap dan sirkulasi udara relatif lebih baik.

Beberapa hal yang berpengaruh terhadap gabah dalam simpanan sebagai berikut.
a. Kadar air
Kadar air gabah sangat menentukan mutu gabah dalam simpan an. Semakin rendah kadar air di awal penyimpanan, gabah tahan disimpan lama. Gabah berkadar air 8-10% mampu disimpan lebih dari 6 bulan dengan sedikit mengalami penurunan daya tumbuh. Gabah dengan kadar air lebih dari 14% mempunyai daya tumbuh yang cepat merosot dan cenderung terjadi gabah kunyit. Kelak bila gabah tersebut digiling akan menghasilkan beras bermutu rendah.

b. Air dan kotoran
Gabah yang disimpan harus dalam keadaan kering. Air bocoran dari genring atau atap seng menyebabkan kelembapan meningkat dan mengundang datangnya jamur. Gabah simpan yang terkontaminasi jamur akan menjadi rusak. Sisa kotoran yang terbawa dalam penyimpanan cenderung meningkatkan kelembapan gabah. Dampak kedua faktor tersebut akan mendorong gabah mudah berkecambah dan merusak kualitas gabah.

c. Hama
Tempat untuk menyimpan gabah harus terbebas dari hama. Hama yang sering menyerang gabah dalam penyimpanan yaitu tikus, Sithophilus oryzae L., Sitotroga cerealella, dan Rhizoperta dominica P. Hama gudang mengakibatkan kerusakan dan berpengaruh buruk terhadap kesehatan gudang. Untuk menjaga kesehatan gudang, dapat digunakan bahan kimia postoxin dan methyl bromida.

( sumber : Budidaya Padi sawah tabela)

No comments:

Post a Comment